Saturday, August 10, 2013

Merindukanmu.

Hari ini aku hanya ingin mengenang semuanya untuk sesaat...
Kemarin tepat 4 minggu setelah kepergianmu. Engkau memilih untuk meninggalkanku sendirian yang masih belum bisa melupakan mu hingga sekarang.
Masih bisa kuingat dengan jelas indah senyuman mu. Masih bisa kuingat jelas tajamnya tatapanmu. Dan masih membekas hangatnya peluk mu di tubuhku.
Canda tawa mu yang sering kau lontarkan. kini tak bisa ku dengar lagi.. Tak ada yang membangkitkan mood ku untuk sejenak kali ini. Kau yang memilih pergi membuatku untuk terbiasa dengan kesendirian lagi.

Ingatkah kau, ketika pertama kali kita keluar berdua. Jantungku berdegup kencang ketika kau menggengam erat jemari ku. Masih kuingat betapa kurusnya jarimu, betapa panjangnya jarimu.
Tanganmu yang kurus melingkar di pundak ku, kau membuatku merasa nyaman berada di sampingmu.
 Senyuman yang kau lontar kan padaku, seketika membuat tubuhku kaku.

Masih ku ingat, ketika handphone ku berdering dan ternyata itu telfon dari mu. Kita bercanda tawa, saling bercerita satu sama lain. Ingatkah kamu, ketika kau memaksa ku untuk menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untuk mu. Ketika aku menolak kau memelas sambil mengancamku. Terkadang aku hanya tersenyum layaknya idiot ketika mengingat itu.
Aku mulai menyanyikan lagu permintaan mu dan kau berkata bahwa suara ku bagus. Ya, pujian itu hampir selalu terngiang dalam pikiran ku ketika aku menyanyikan lagu tersebut.

Namun, awal ketika kita jalan berdua adalah alasan awal pertengkaran kita. Aku yang dilarang keluar oleh orang tua ku, membuatmu salah paham dan salah sangka. Kita tidak berkomunikasi hampir 3 hari. Tak ada lagi pesan darimu, telfon darimu. Aku merasa tak dianggap dan tak dihargai. Aku merasa hanya dijadikan pelarian olehmu !

Malam itu, tepat tanggal 9 juli. Aku memutuskan untuk menelfon mu, menanyakan kepastian darimu. Ku persiapkan mental ku untuk berbicara denganmu. Asal kau tahu saja untuk mengatakan "hallo" saja aku gemetar, apalagi harus menanyakan kepastian.
Kau angkat telfon ku. Ku dengar lagi suara mu yang tak terdengar berat seperti lelaki biasa. Tak kusadari ada yang membasahi pipi ku, ya aku menangis.
Aku menangis karena tak sanggup harus menjelaskan semuanya pada mu. Hati ku terlalu lelah tersaikiti olehmu.

Aku mengira pertanyaan ku tidak akan berujung pada perpisahan. Faktanya? akhirnya kami berpisah.
Sejujurnya aku tak bertujuan untuk berpisah dengan mu, aku hanya berharap agar kau mencari dan mencemaskan ku.
Pernyataan yang aku lontarkan kau anggap adalah kode untuk berpisah. Salah itu salah! mengapa kau begitu bodoh, mengartikan setiap perkataanku!? Aku hanya mencari kepastian bukan perpisahan.
Dengan gampang nya kau menulis pesan itu ! Sedangkan aku? butuh derai air mata untuk mengatakan itu! Kau! menganggap semuanya mudah, kau menyepelekan hal kecil. Kau anggap kata cinta dan sayang bukanlah hal yang sakral untuk diucapkan.


Sekarang.. Hari ini...
Aku merindukan semua itu. Canda tawa mu, senyuman mu, tatapan mu, pelukanmu , amarah mu, pengorbanan mu. Aku merindukan pesan singkatmu di pagi, siang, dan malam hari. Kau yang membuka hari ku dengan pesan mu, dan kau yang juga menutup hari-hari ku dengan ucapan selamat tidur mu.
Tak kusangka aku begitu bodoh. Mengapa aku harus merindukan seseorang yang tidak pernah merindukan ku sama sekali. Jangan kan rindu, kau ingat nama ku saja sudah untung.

Malam ini, aku sujud dan berdoa pada Tuhan. Agar kau selalu dilindungi dari perih nya di tinggalkan,sakit nya di bohongi. Aku tak mau kau terjatuh dan tenggelam di perihnya luka dalam.

Di sini, di tempat ini. Aku hanya bisa membisikkan nama mu dalam kesendirian ku. Aku hanya bisa berharap engkau bahagia dengan yang lain. Engkau merasakan indahnya dicintai dan mencintai lagi. Untuk yang ke dua kali nya, Jangan kau jatuh ke dalam lubang yang sama lagi. Dulu aku sempat menyelamatkan mu, namun aku bukanlah penyelamat yang pantas untukmu.

Suatu saat nanti, kita akan bertemu satu sama lain. Kau membawa pasangan mu, aku pun begitu. Kita memiliki kebahagiaan masing - masing. Kita tak lagi saling menyakiti satu sama lain. Kita saling bercanda mengenai masa lalu kita, betapa begitu bodoh dan aneh nya aku dan kamu dulu ..

Kemudian, lukaku bisa kaujadikan materi stand up comedy-mu;tertawakan aku sepuasmu.
Terima kasih untuk tawa yang kau titipkan pada setiap candaanmu di ujung malam. Terima kasih untukmu yang telah menyadarkan ku bahwa aku memang tak pantas untukmu.
" Sekarang, aku sadar.. Kau.. sosok yang pernah berada disampingku, yang membuat ku tersenyum dan tertawa kencang adalah sosok pria yang dapat membuatku menangis kencang  - (dwitasari) "

No comments:

Post a Comment